Café Idle Tone

Aroma khas biji kopi terpanggang dan pelitur yang menyatu di udara menyambut penciuman Yeon di langkah kaki pertama saat memasuki tempat itu.

Sebuah warung kopi baru saja dibuka tidak jauh dari tempatnya bekerja. Yeon kebetulan sedang membutuhkan stimulus kafein karena Hong Se-joon membuatnya lembur untuk menyelesaikan laporan bulanan yang harus ada di meja kerjanya besok pagi.

Direktur perusahaan di tempat Yeon bekerja itu agak terburu-buru saat memberinya tugas sebab istri sang direktur terlanjur memesan tiket liburan musim panas ke Yunani tanpa sepengetahuannya. Sebagai kejutan, tentu saja, Hong Se-joon sendiri yang bercerita. Padahal, akhir bulan ini ada proyek penting yang dilimpahkan ke perusahaannya karena memenangkan tender, namun Hong Se-joon tidak bisa mengubah rencana liburan istrinya begitu saja.

Warung kopi tersebut berukuran tidak terlalu besar, dari depan hanya tampak seperti bangunan kubus yang dicat berwarna hitam polos dengan pintu dan dinding kaca memenuhi hampir tiga per empat bagian dinding serta plang warung kopi berwarna perak bertengger di atasnya.

Begitu masuk ke dalam, furnitur yang mayoritas terbuat dari kayu menyapa pandangan pengunjung dengan hangat. Pencahayaan dibuat secukupnya dan hanya dinyalakan saat hari gelap. Sebuah meja bar berbentuk huruf L dibuat menempel ke tembok dan menjadi ruang pemisah antara dapur — juga ruang karyawan — serta area duduk. Hanya ada seorang pengunjung kala itu, yang duduk di kursi berkaki tinggi dan menghadap ke arah meja bar sambil menyesap minuman di dalam cangkir porselennya. Yeon menghampiri pengunjung tersebut tanpa bermaksud mengganggu. Ia mengincar kursi kosong di samping pengunjung tersebut sejak memasuki warung.

“Halo,” sapa Yeon ramah, “boleh saya duduk di sini?”

Laki-laki yang disapa Yeon tidak mengatakan apa-apa, tetapi sepertinya tidak keberatan.

“Ini pertama kalinya saya datang kemari, apa Anda juga?” tanya Yeon sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Yeon mencari seorang barista, yang tidak tampak di tempat seharusnya ia berada, tetapi hanya ada Yeon dan pengunjung di sampingnya di dalam ruangan tersebut.

“Anu,” Yeon kembali bersuara, padahal laki-laki di sampingnya belum juga menjawab pertanyaan Yeon sebelumnya, “bagaimana caranya saya memesan?”

“Layani saja dirimu sendiri.”

“Eh?” Yeon memandang lawan bicaranya dengan raut kebingungan.

“Ini warung kopi swalayan, kau tidak tahu?”

Laki-laki di samping Yeon berbicara dengan nada tegas, namun tidak sekaku Yeon yang menggunakan bahasa formal. Laki-laki itu kemudian bergumam, tetapi suasana sunyi di warung kopi tersebut menyebabkan suaranya terdengar cukup jelas di telinga Yeon.

“Jongin seharusnya mencantumkan informasi tersebut dalam pamflet,” laki-laki itu menggerutu. “Dasar menyusahkan,” ujarnya pada seseorang bernama Jongin yang ia sebut sebelumnya — mungkin, Yeon tidak begitu ingin tahu.

Yeon masih duduk di kursinya sambil memasang raut yang sama seperti semula. Ucapan laki-laki di sampingnya sama sekali tidak membantu. Yeon kini sedang mempertimbangkan apakah sebaiknya membatalkan saja keinginannya untuk menyesap kopi, lalu mampir ke minimarket yang letaknya hanya beberapa blok dari sana, atau langsung saja kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaan. Malam memang masih panjang, tetapi Yeon khawatir tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan laporan bulanannya.

Meski lelah sudah mendera sejak beberapa jam yang lalu dan Yeon sudah berada di depan layar komputer sejak jam sembilan pagi, ia sebaiknya bergegas. Lagi pula, pekerjaan mendadak ini tidak sepenuhnya buruk. Ada kompensasi khusus dari sang direktur karena telah menyuruhnya bekerja di luar waktu normal karyawan. Biar bagaimana, Hong Se-joon tahu bahwa Yeon pada dasarnya adalah seorang pekerja keras sehingga melimpahkan tugas tersebut padanya selaku (salah satu) penanggung jawab proyek.

Yeon akhirnya bangkit dari tempat duduk tanpa mengatakan apa-apa, juga mengembalikan posisi kursinya ke semula. Ia bermaksud meninggalkan tempat itu begitu saja kalau laki-laki di sampingnya tidak mengatakan sesuatu yang menahan langkahnya kemudian.

“Jangan salah paham,” ujar laki-laki itu dengan nada tegas yang sama. “Jongin sedang tidak ada di tempat, Eunji juga tidak tahu pergi ke mana, hanya ada aku yang mengurus tempat ini, tapi aku sedang tidak ingin melayani siapa pun.”

“Jadi, kau pemilik tempat ini?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Yeon, laki-laki itu malah menjanjikan sesuatu yang tidak ia minta.

“Kalau kau datang lagi kemari, aku akan mentraktirmu secangkir kopi, sebagai ganti karena tidak mengusik waktu santaiku malam ini,” laki-laki itu kemudian bangkit dari tempat duduk dan membawa cangkirnya ke arah dapur. Sementara itu, Yeon masih bergeming, menatap ke arah hilangnya laki-laki tersebut.

***

Pekerjaan Yeon selesai tepat waktu — dan Hong Se-joon menyukai hasil pekerjaannya — sehingga Yeon diizinkan pulang sejenak untuk menyegarkan diri. Ia kembali ke kantor kurang dari satu jam kemudian, lalu menemani sang direktur menghadiri sebuah rapat bersama para direksi untuk membahas persiapan proyek yang akan berjalan selama Hong Se-joon mengambil cuti.

Rapat tersebut dilanjutkan setelah jam makan siang dan Yeon baru benar-benar meninggalkan kantor selepas makan malam. Ia mengendarai mobilnya dengan tampang lesu. Hari itu benar-benar melelahkan, bahkan Hong Se-joon bisa merasakan kelelahannya dari gaya bicara Yeon sepanjang hari. Yeon tidak biasanya terdengar tidak begitu antusias. Oleh karena itu, sang direktur tidak menahannya untuk makan malam bersama.

Yeon sudah berencana untuk tidur cepat malam itu, namun langsung mengurungkan niat saat mobilnya melintas di depan warung kopi yang baru saja dikunjunginya semalam lalu. Ia tiba-tiba teringat pada janji secangkir kopi yang ditawarkan laki-laki pemilik tempat tersebut dan ingin tahu apakah “Idle Tone” — nama warung kopi itu — menerima pesanan untuk dibawa pulang. Ia hanya butuh beberapa sesap kafein sebelum pergi tidur dan secangkir kopi rasanya cukup untuk mengakhiri malam itu.

Yeon akhirnya memarkirkan kendaraannya tidak jauh dari Idle Tone. Langit malam di musim panas lumayan cerah, namun sedikit membuatnya gerah. Secangkir kopi setidaknya bisa menghapus sedikit perasaan tidak nyaman tersebut — Yeon berharap. Ditambah lagi, suasana malam hari di sekitar lingkungan Idle Tone tampaknya selalu sepi dan lengang, seperti semalam lalu, dan Yeon menyukai ketenangan itu.

“Ah, kau datang lagi,” laki-laki yang semalam lalu sama sekali tidak melirik ke arah Yeon begitu ia datang, kini berdiri di belakang meja bar dan melihat ke arah datangnya Yeon. Tangannya sibuk mengelap gelas-gelas kaca menggunakan lap kering.

“Kuharap kau tidak keberatan,” Yeon mencoba tidak menggunakan bahasa formal.

“Oh, tidak sama sekali,” laki-laki itu mengesampingkan gelas-gelasnya dan menatap Yeon. “Mau pesan apa?”

“Loh, kupikir tempat ini swalayan?”

“Yah, aku tahu kau tidak bisa membuat kopimu sendiri, bukan begitu?”

“Bagaimana kau tahu, Sajangnim?” Yeon terlihat takjub, seketika lupa bahwa ia datang ke sana untuk segelas kopi yang bisa dibawanya pulang.

“Tempat ini milik Jongin, aku hanya pegawai di sini,” laki-laki itu meralat. Tatapannya masih tertuju pada Yeon saat menjawab pertanyaan pria dalam balutan kemeja berdasi dan celana berbahan katun di hadapannya itu. “Kau pergi begitu kusuruh melayani sendiri pesananmu. Tebakanku, kau tidak bisa menggunakan mesin itu.”

Laki-laki itu menunjuk sebuah mesin pembuat kopi di samping pintu dapur, lalu Yeon mengangguk — mengakui.

“Jadi, apa yang harus kubuatkan untukmu malam ini?”

“Apa pun yang dingin, namun tidak terlalu kuat. Aku hanya butuh sedikit penawar lelah luar biasa yang kurasakan sepanjang hari ini.”

Laki-laki itu mengangguk paham. “Cappuccino saja, bagaimana?”

Yeon tidak mengatakan apa-apa, hanya balas mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan selagi laki-laki itu menyiapkan minumannya.

“Kalau kau bukan sajangnim, lantas aku harus memanggilmu apa?”

“Oh, kita sudah seakrab itu sekarang?” Nada bicaranya terdengar sinis. Namun, entah bagaimana, Yeon tahu bahwa ucapan laki-laki itu tidak seharusnya membuatnya tersinggung. Ia kemudian menjawab, “Kau bisa memanggilku ‘Lu Yan’.”

Chinese?”

“Aku lahir di Beijing,” laki-laki itu mengakui. “Kau mengerti bahasa Mandarin?”

“Sedikit,” Yeon menjawab dengan nada sambil lalu, kemudian menatap Lu Yan.

Lu Yan membalas tatapan kosong milik Yeon yang diarahkan padanya. “Kau tidak akan memberitahuku namamu?”

“Park Yeon,” jawab Yeon lirih.

Lu Yan mengulas senyum tipis. “Kau benar-benar kelelahan rupanya.”

Tak lama kemudian, secangkir kopi yang dikenal berasal dari Italia tanpa sentuhan latte art di atasnya, hanya foam polos karena tidak ingin membuat seseorang menunggu terlalu lama, tersaji di hadapan Yeon.

“Terima kasih,” ujar Yeon dengan raut wajah tidak sabar. Namun, ia tidak terburu-buru menyesap minumannya. “Kau tidak membuat sesuatu untuk dirimu sendiri?”

Lu Yan menatap Yeon sambil menyeringai. Yeon tidak sadar kalau dirinya telah mengatakan sesuatu yang lucu, tetapi seringaian Lu Yan menurutnya menandakan sesuatu.

“Aku di sini sepanjang waktu. Kopi yang kuminum sudah terlalu banyak.”

Yeon mengangguk, tetapi tidak menyahut. Ia hanya menatap minumannya dalam diam sambil memainkan ujung cangkir porselen dengan ibu jari dan telunjuknya. Sementara itu, Lu Yan masih menatap Yeon yang tertunduk, memerhatikan ekspresi di wajahnya, sembari berusaha menginterpretasikan sendiri maknanya, meskipun tidak terlalu yakin bahwa tebakannya benar.

“Kau sebaiknya segera menghabiskan itu dan pergi tidur,” Lu Yan menyarankan. “Kau benar-benar terlihat payah, yakin bisa menyetir sampai rumah?”

“Aku hanya kelelahan,” Yeon menekankan, “bukannya mabuk.”

Lu Yan tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, tidak juga tersenyum. Hal terakhir yang terlintas di dalam kepalanya adalah menawari Park Yeon tumpangan sampai ke rumah atau membiarkan pegawai kantoran tersebut menginap di apartemennya — yang terletak tepat di belakang Warung Kopi Idle Tone. [ ]

P.S. Demi masa lalu yang belum terlupakan — bagaimana mereka bertemu, berkenalan, dan bercerita. Kuharap kau sehat dan bahagia, di mana pun kau berada saat ini, Wolfy. Tidak ada Lu Han yang sepertimu. Tidak ada Lu Han yang berkata “don’t flirt with ma mei” dan berhasil membuatku menarik diri saat itu juga karena cemburu. Tidak ada yang sepertimu, Cold Lil’ Devil, dan aku merindukanmu. Sungguh.

Advertisements

Any comment would be lovely. ♡

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s