Sailing the Seashore: Di Pantai Hatimu, Aku Berlabuh

Alasan yang membawa Rosie dan Sakai ke Singapura bisa dibilang bukan sesuatu yang mungkin dirasakan semua orang.

Rosie dan Sakai berasal dari keluarga berada. Ayah Rosie di Jakarta memiliki bisnis properti, sedangkan Sakai adalah seorang tuan muda yang kabur dari rumah karena menolak menjadi pewaris — apa pun jenis usaha yang dijalankan orang tuanya di Jepang.

*

Data Buku:
Softcover, 231 halaman
Terbit Mei 2014 oleh Bhuana Sastra

Harus kuakui, sedikit demi sedikit, aku mulai memahami maksud pertanyaan Mbak waktu itu. Saat memberi tahu kalau aku akhirnya membeli bukunya secara online, Mbak malah berkata, “Kenapa kau membelinya?” Benar-benar respons di luar dugaan. Ha-ha. Persis seperti Mbak Asha yang kukenal selama ini: selalu penuh kejutan.

Buku ini mungkin bukan karya terbaik yang pernah Mbak tulis, tetapi menurutku, tetap menonjolkan ciri khasnya sebagai seorang penulis, apalagi novel ini merupakan karya debut-nya. Aku sendiri sengaja ingin memilikinya dari dulu karena tidak ingin melewatkan kesempatan apa pun kalau berkenaan dengan tulisannya. Meskipun beberapa tahun belakangan, aku menjadi agak pemilih, tetapi tulisan Mbak tidak ada dalam blacklist-ku. Aku punya satu nama kalau kau penasaran, baru kumasukkan ke dalam daftar beberapa bulan yang lalu.

Sejauh yang telah kubaca, buku ini menceritakan tentang empat orang yang tinggal di bawah satu atap. Dengan masalahnya masing-masing, latar belakang kehidupan dan tujuan yang ingin dicapai berbeda, namun mencoba untuk saling menguatkan layaknya keluarga.

Sejujurnya, novel semacam ini adalah jenis cerita yang biasanya kuhindari, tetapi pertimbanganku memberinya kesempatan yaitu desain sampul yang menarik serta kedekatan yang kumiliki dengan penulis.

Aku sependapat dengan Jjong Oppa mengenai satu hal: kalau aku punya teman yang memiliki karya atau menciptakan sesuatu, kurasa temanku akan merasa terkesan bila aku secara pribadi membeli dan mengapresiasi karyanya. Setidaknya, hal ini memberi kesenangan bagi dua pihak. Aku sendiri bukan tipe orang yang mudah menghabiskan uang untuk membeli sebuah buku atau novel, kecuali karya tertentu memang menarik minatku setelah berbagai pertimbangan yang (pastinya) tidak mudah. Aku benar-benar rewel soal selera. 😦

Kalian harus membaca buku ini kalau menikmati (melo)drama, cerita seputar keluarga, perjuangan seorang ibu, karakter yang menderita penyakit, komedi romantis, Kartini masa kini di tanah rantau, pemuda Jepang yang seringkali mengundang senyum dan gelak tawa karena ucapan maupun tingkahnya, dan sebagainya. Kuharap aku tidak membocorkan informasi terlalu banyak. He-he.

P.S. Aku mungkin akan memperbarui tulisan ini setelah benar-benar menamatkan buku Mbak, jadi jangan heran kalau sewaktu-waktu tulisan ini menjadi lebih panjang. Atau malah, menjadi lebih pendek. Aku punya kebiasaan buruk, kalau kau tahu. ;w;

Advertisements

Any comment would be lovely. ♡

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s